Author : Nab
Happy Reading..
“ oke teman teman. Forum kita
kali ini membahas mengenai acara akhir tahun sekolah , Desember mendatang. Lomba ada dua, yaitu karya
seni untuk pameran, dan cerdas cermat matematika. Untuk lomba karya seni
diwakili oleh tiga orang tiap kelas. Dan untuk cerdas cermat satu orang” jelas
sang ketua kelas 10-3, Leo, didepan
kelas
“ yang pertama kita bahas
mengenai lomba karya seni. Kita akan tentukan tiga orang wakil kelas” sambung
sang wakil ketua, Lita.
“Lani” sahut satu suara
“Heish, kenapa aku?” ujar Lani
tak terima
“Devin” sahut suara yang lain
“Oyoyoyoi.. big nooo.. “ sungut
Devin
“Arira” sahut satu suara lagi
“ What the HEELo Kitty.. kenapa
aku? Tidak” ujar Arira sambil mencak mencak
“Oke.. Lani, Devin, Arira. Deal?”
Tanya sang ketua kelas
“Deall!!!!” ucpa seluruh anggota
kecuali tiga orang yang terpilih
“ Tapi Yo.. kau tidak menanyakan
pada kami mau atau tidak?” Tanya Lani tak terima
“ Oh ayolah Dear.. siapa lagi
kalau bukan kalian. Kalian kan ahli dalam hal yang satu ini. Lagipula kalian
adalah teman sejiwa, sehati, sehidup, dan semati kalau kalian mau” bujuk Leo
“Kau menyumpahi kami mati?” desis
Devin
“No.. No! please.. kalian kan
teman kami” bujuk Lita lagi
“teman? Saat kau butuh kan?” ucap
Arira kesal
“itu kau tau” jawab Leo ringan
“Sialan!” umpat ketiganya, yang
ditanggapi gelak tawa satu kelas.
“Deal ya?” Tanya Leo memastikan
“Deal..”
“oke, sekarang kita bahas cerdas
cermat matematika. Siapa yang mewakili kelas kita anak anak?” Tanya Lita dengan
mata mengerling
“Raini..” ucap satu kelas. Si
tokoh utama mendongakkan kepalanya. Menatap satu kelas bingung.
“Apa?” tanyanya polos
“Pasukan??” ucap Leo sok
diplomatis. Dengan sigap Revan dan Ari melangkah menuju bangku gadis itu,
mengambil ponsel yang terhubung earphone , dan mematikan lagu yang diputar.
Lalu mendapat respon decakan kesal dari penghuni kelas. Sedangkan si tersangka
hanya nyengir tanpa dosa.
“Baiklah. Saudara Raini
menjadi wakil kelas kita dalam lomba
cerdas cermat matematika” putus Leo
“Hei!! Apa apaan ini? Kenapa aku?
Kenapa tidak Hilda, Hani, atau kau sendiri Leo?” cerocos Raini tidak terima.
“No dear.. semua sudah sepakat
kau yang menjadi wakil kelas kita”
“kalian ini teman bukan sih?
Kenapa selalu aku yang harus berkencan dengan dreretan angka itu” gerutu Raini
kesal lalu memalingkan muka kekiri , dan mendapati iris hitam pekat seseorang
bertemu dengan iris mata Raini sendiri. Seseorang yang duduk di bangku pojok.
Mata mereka bertemu untuk beberapa saat kedepan , dan Raini memalingkan mukanya
kearah lain karena jantungnya berulah lagi.. “ Dasar tidak tau diri” umpat
Raini entah pada siapa. Dan forum hari itu berakhir.
*
Raini menatap bosan
sekelilingnya. Kelas ricuh karena Pak.Adi tidak masuk hari ini. Hamper semua
anak laki laki dikelasnya sibuk bermain monopoli versi mobile sialan, dan
menjerit kesal saat kalah dengan lawan yang padahal Autoplay. Memalukan …
Disudut kelas tampak segerombol
anak perempuan sedang bergosip ria. Entahlah, Raini sempat mendengar mereka
menyebut nyebut “ bocah kesepian”. Well. Ini menyebalkan!! Raini memutuskan
untuk keluar dan membawa buku catatan matematika yang akan dipelajarinya nanti.
Raini berjalan menuju gazebo yang tak jauh dari kelasnya. Duduk bersila, lalu
memasang earphone ditelinganya, dan mulai membaca catatan yang dibawanya.
“untukmu..” sebuah suara terdengar
ditelinga Raini, mendongak menatap si pemilik suara itu. Dan sedetik kemudian
terperangah..
“Untukku?” tanya Raini ragu. Yang dibalas anggukan singkat
dari si pemilik suara itu. Raini mengambil kopi kaleng dingin dari tangannya,
menerimanya.
“Terimakasih” ucap Raini padanya,
lalu menyunggingkan senyumnya.
*
“apa yang akan kita buat?’” Tanya
Lani pada kedua temannya, Devin dan Arira.
“Karya seni yang tepat guna,
bernilai seni, dan memiliki nilai jual” ujar Arira
“Hu’um.. menurutmu apa Dev?”
Tanya Arira pada Devin.
“Bagaimana kalau guci?” usul
Devin
“terlalu pasaran” ucap Arira
“patung?”
“sulit.. bahannya rata rata harus
mengeluarkan banyak biaya” tanggap Arira lagi
“lukisan kaca?”
“mahal Dev.. cari yang murah tapi
berkualitas” tanggap Arira sekali lagi
Devin menghela napas
“pikir saja sendiri! dari tadi
kau hanya menolak usulanku kan?kenapa tidak gunakan otakmu itu? “ sembur Devin
marah
“Yaah! kenapa kau marah? Aku
hanya mengatakan apa adanya. Memang itu kenyataannya.” Ucap Arira tak terima
“iya.. memang itu kenyataanya.
Terserah padamu sekarang Nona Arira..” tukas Devin lalu pergi
“Heish!! Kenapa malah bertengkar
sih?” gerutu Lani kesal
“tanyakan saja pada temanmu yang sentiment itu!” putus Arira lalu pergi
“tanyakan saja pada temanmu yang sentiment itu!” putus Arira lalu pergi
“Dasar labil” umpat Lani kesal.
*
“bagaimana perkembangannya?’
Tanya Leo pada ketiga temannya, yang tak lain adalah Lani, Devin, dan Arira
“tidak tahu!” jawab Arira acuh
“Hei.. Ayolah kawan.. waktunya
tidak banyak lagi..” ujar Leo setengah memohon
“akan kupikirkan nanti” tukas
Devin lalu pergi.
“Tentu.. aku juga akan
memikirkannya nanti.. bye Leo” ucap Arira tak kalah acuh, lalu beranjak pergi
Leo menatap Lani pasrah,
sedangkan yang ditatap hanya mengendikkan bahu.
*
Raini sedang menghapal rumus
rumus lingkaran dengan tenang. Mulutnya menggumamkan beberapa kalimat yang
tidak begitu jelas.
“ gambar lingkaran berulang
ulang. Bagian dalamnya kecil, sedangkan bagian luarnya luas, dikerjakan menggunakan
rasio perumpamaan, bukan deret ukur….” Gumam Raini seraya menulis dicatatan
kecilnya
“sibuk?” Tanya sebuah suara
Raini menoleh dan mendapati
seseorang yang sama seperti beberapa hari yang lalu
“tidak juga” jawab Raini.
Seseorang itu duduk disamping Raini.
“lingkaran?” gumam seseorang itu.
Raini mengangguk kecdil
“kau tidak pergi bersama yang
lain ke kantin?” tanya Raini
mencoba mencairkan suasana
“tidak” seseorang itu memasangkan
earphone ketelinganya, lalu merebahkan kepalanya ke meja. Menatap Raini yang
sedang menulis rumus disampingnya.
“kau tidak pusing menghapal semua
rumus rumus itu Ra?” Raini berjengit kecil mendengar seseorang itu memanggil
namanya seperti itu. Menatap balik
seseorang itu
“kau memanggilku apa tadi?” Tanya
Raini memastikan
“Ra. Kau tidak suka?”
“bukan. Hanya saja belum ada yang
memanggilku seperti itu, Ray”
“kau memanggilku apa tadi?” Tanya
seseorang itu persis seperti yang Raini katakan
“Ray? kau tidak suka?” timpal Raini sama persis
dengan yang diucapkan seseorang itu
“bukan. Hanya saja belum ada yang
memanggilku seperti itu, Ra” ucap seseorang itu, lagi lagi sama persis dengan
ucapan Raini
Mereka saling tatap, lalu
tertawa.
*
“Aku ingin bicara” ucap Arira
pada Devin
“bicara saja”
“ck.. tidak disini.. ayo keluar”
“kenapa harus keluar? Malas”
“oke oke! Aku minta maaf atas
kejadian tempo hari itu. Aku memang keterlaluan” Devin terdiam
“ya. Kau memang keterlaluan
Arira”
“ tapi aku sudah minta maaf kan?’
“oh ya? Lalu aku akan
memaafkanmu?”
“kau tidak memaafkanku?” Tanya
Arira tidak percaya
“kapan aku mengatakan aku tidak
memaafkanmu?” ucap Devin seraya mengerling
“sialan! Kau mengerjaiku ya?”
ucap Arira tak percaya
“ya.. hitung hitung balas dendam.
Ngomong ngomong aku sudah menemukan karya seni yang kujamin menang”
“ benarkah?”
*
Acara akhir tahun resmi dibuka.
Sekarang adalah saatnya penampilan karya seni para wakil dari semua kelas.
Pameran itu diadakan di aula sekolah yang terletak dilantai dua. Wakil kelas
10-3 tampak bersemangat, menjelaskan karya seni mereka
“ini adalah terobosan baru. Karya
seni yang memiliki nilai jual, tepat guna, dan tentunya bernilai seni. Kami
membuatnya dari barang bekas. Hanya butuh botol plastik, lampu , baterai, cat,
jadilah karya seni ini. Kami menyebutnya “ EXPOSE LIGHT”. Lampu tidur yang
terbuat dari botol bekas, dengan sedikit sentuhan tangan terampil kami
tentunya, jadilahhh”
*
“kerjakan dengan benar,
ketepatan, kecepatan, dan ketelitian dibutuhkan, jujur adalah kunci utama.
Semoga berhasil”
Raini mengerjakan soal dengan
teliti dan sebisanya. Sepuluh soal uraian yang bukan main sulitnya dikerjakan
dengan hati hati. Dalam hati ia berdoa agar usahanya tidak sia sia.
*
“pagi gaeeessss!! Hari ini adalah
puncak acara akhit tahun sekolah tercinta kita , SMA NUSA!!!! Give applause
buat kita semua. Kali ini kita akan mengumumkan juara dari dua lomba yang telah
diikuti oleh semua kelas.” Ucap pembawa acara pagi itu dengan ceria.
“ oke, yang pertama buat lomba
karya seni, kita udah nentuin siapa yang bakal jadi pemenang. Ini karya seni
yang luar biasa. Belum pernah ada yang buat, dan tentunya tepat guna nih gaess! Pemenangnya adalah……
EXPOSE LIGHTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Teriakan menggema dari kelompok
kelas 10-3. Mereka sangat gembira. Ketiga pahlawan mereka benar benar member
bukti nyata akan kerja keras mereka.
“untuk yang mewakili. Silahkan
maju kedepan”
“Maju Dev!!!” Devin menatap kedua
temannya, yang menganggukkan kepala. Devin tersenyum lalu maju kedepan
“terimakasih untuk panitia yang sudah
menjadkan kelas kami sebagai pemenang . terimakasih untuk kedua teman sehidup
dan semati kalau kalian mau hahaha, Lani dan Arira!!!! Dan tentunya buat teman
teman EXPOSEEEEEEEEEEE… THANKS!!!” Singkat pidato dari Devin membuat kelas 10-3
semakin heboh.
“Woaahhh!! Selamat buat EXPOSE
ya.. oke gaes.. kita bakal umumin siapa yang jadi juara cerdas cermat
matematika.. siapa yang tau???” pancing pembawa acara
Teriakan nama masing masing wakil
kelas menggema..
“kita bakal ambil tiga juara
umum. Juara ketiga adalah.. Pradipta dari kelas 11-1!!!!”
Sorak sorai kembali bergema
“ juara kedua adalah… Raini dari
10-3!!!!”
Kali ini EXPOSE harus berpuas
diri dengan menyabet juara kedua
“juara pertama adalah…….. Tia
dari kelas 11-2!!!! Untuk yang menjadi pemenang , harap maju kedepan”
Ketiga pemenang itu maju
kedepan..
“terimakasih buat teman teman
11-1 yang sudah support. Piala ini buat kalian” ucap Pradipta
“Terimakasih buat teman teman
Expose.. ini yang bisa aku sumbangkan buat kalian. Walau hanya menjadi juara
kedua, tapi kita tetap menjadi yang terbaik, karena EXPOSE tidak hanya punya
ekspektasi, tapi EXPOSE punya lebih dari itu. Yaitu impian dan kerja keras.
Thanks..” pidato singkat Raini tak elak menjadi pusat
perhatian seluruh siswa. Lalu terdengar gema tepuk tangan yang meriah
*
“Woahhhh!!! Kata katamu kerennn..
kau benar benar Raini kan?” cerocos Lita saat Raini baru saja sampai ke
kelompok kelas 10-3 setelah turun panggung.
“tentu saja.. kau pikir Raini ada
berapa?” jawab Raini yang diikuti gelak tawa seluruh temannya. Raini tersenyum
lembut, matanya menatap seseorang yang tak jauh darinya.
“KARENA EXPOSE TAK HANYA PUNYA
EKSPEKTASI, TAPI EXPOSE PUNYA LEBIH DARI ITU, YAITU IMPIAN DAN KERJA KERAS”
Tidak ada komentar: