MIA 3

welcome to our blog

We are Expose

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: Unknown Posted date: 23.42 / comment : 0

    Author : Nab
    Happy Reading..


    “ oke teman teman. Forum kita kali ini membahas mengenai acara akhir tahun sekolah , Desember mendatang. Lomba ada dua, yaitu karya seni untuk pameran, dan cerdas cermat matematika. Untuk lomba karya seni diwakili oleh tiga orang tiap kelas. Dan untuk cerdas cermat satu orang” jelas sang ketua kelas  10-3, Leo, didepan kelas
    “ yang pertama kita bahas mengenai lomba karya seni. Kita akan tentukan tiga orang wakil kelas” sambung sang wakil ketua, Lita.
    “Lani” sahut satu suara
    “Heish, kenapa aku?” ujar Lani tak terima
    “Devin” sahut suara yang lain
    “Oyoyoyoi.. big nooo.. “ sungut Devin
    “Arira” sahut satu suara lagi
    “ What the HEELo Kitty.. kenapa aku? Tidak” ujar Arira sambil mencak mencak
    “Oke.. Lani, Devin, Arira. Deal?” Tanya sang ketua kelas
    “Deall!!!!” ucpa seluruh anggota kecuali tiga orang yang terpilih
    “ Tapi Yo.. kau tidak menanyakan pada kami mau atau tidak?” Tanya Lani tak terima
    “ Oh ayolah Dear.. siapa lagi kalau bukan kalian. Kalian kan ahli dalam hal yang satu ini. Lagipula kalian adalah teman sejiwa, sehati, sehidup, dan semati kalau kalian mau” bujuk Leo
    “Kau menyumpahi kami mati?” desis Devin
    “No.. No! please.. kalian kan teman kami” bujuk Lita lagi
    “teman? Saat kau butuh kan?” ucap Arira kesal
    “itu kau tau” jawab Leo ringan
    “Sialan!” umpat ketiganya, yang ditanggapi gelak tawa satu kelas.
    “Deal ya?” Tanya Leo memastikan
    “Deal..”
    “oke, sekarang kita bahas cerdas cermat matematika. Siapa yang mewakili kelas kita anak anak?” Tanya Lita dengan mata mengerling
    “Raini..” ucap satu kelas. Si tokoh utama mendongakkan kepalanya. Menatap satu kelas bingung.
    “Apa?” tanyanya polos
    “Pasukan??” ucap Leo sok diplomatis. Dengan sigap Revan dan Ari melangkah menuju bangku gadis itu, mengambil ponsel yang terhubung earphone , dan mematikan lagu yang diputar. Lalu mendapat respon decakan kesal dari penghuni kelas. Sedangkan si tersangka hanya nyengir tanpa dosa.
    “Baiklah. Saudara Raini menjadi  wakil kelas kita dalam lomba cerdas cermat matematika” putus Leo
    “Hei!! Apa apaan ini? Kenapa aku? Kenapa tidak Hilda, Hani, atau kau sendiri Leo?” cerocos Raini tidak terima.
    “No dear.. semua sudah sepakat kau yang menjadi wakil kelas kita”
    “kalian ini teman bukan sih? Kenapa selalu aku yang harus berkencan dengan dreretan angka itu” gerutu Raini kesal lalu memalingkan muka kekiri , dan mendapati iris hitam pekat seseorang bertemu dengan iris mata Raini sendiri. Seseorang yang duduk di bangku pojok. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat kedepan , dan Raini memalingkan mukanya kearah lain karena jantungnya berulah lagi.. “ Dasar tidak tau diri” umpat Raini entah pada siapa. Dan forum hari itu berakhir.
    *
    Raini menatap bosan sekelilingnya. Kelas ricuh karena Pak.Adi tidak masuk hari ini. Hamper semua anak laki laki dikelasnya sibuk bermain monopoli versi mobile sialan, dan menjerit kesal saat kalah dengan lawan yang padahal Autoplay. Memalukan …
    Disudut kelas tampak segerombol anak perempuan sedang bergosip ria. Entahlah, Raini sempat mendengar mereka menyebut nyebut “ bocah kesepian”. Well. Ini menyebalkan!! Raini memutuskan untuk keluar dan membawa buku catatan matematika yang akan dipelajarinya nanti. Raini berjalan menuju gazebo yang tak jauh dari kelasnya. Duduk bersila, lalu memasang earphone ditelinganya, dan mulai membaca catatan yang dibawanya.
    “untukmu..” sebuah suara terdengar ditelinga Raini, mendongak menatap si pemilik suara itu. Dan sedetik kemudian terperangah..
    “Untukku?” tanya Raini ragu. Yang dibalas anggukan singkat dari si pemilik suara itu. Raini mengambil kopi kaleng dingin dari tangannya, menerimanya.
    “Terimakasih” ucap Raini padanya, lalu menyunggingkan senyumnya.
    *
    “apa yang akan kita buat?’” Tanya Lani pada kedua temannya, Devin dan Arira.
    “Karya seni yang tepat guna, bernilai seni, dan memiliki nilai jual” ujar Arira
    “Hu’um.. menurutmu apa Dev?” Tanya Arira pada Devin.
    “Bagaimana kalau guci?” usul Devin
    “terlalu pasaran” ucap Arira
    “patung?”
    “sulit.. bahannya rata rata harus mengeluarkan banyak biaya” tanggap Arira lagi
    “lukisan kaca?”
    “mahal Dev.. cari yang murah tapi berkualitas” tanggap Arira sekali lagi
    Devin menghela napas
    “pikir saja sendiri! dari tadi kau hanya menolak usulanku kan?kenapa tidak gunakan otakmu itu? “ sembur Devin marah
    “Yaah! kenapa kau marah? Aku hanya mengatakan apa adanya. Memang itu kenyataannya.” Ucap Arira tak terima
    “iya.. memang itu kenyataanya. Terserah padamu sekarang Nona Arira..” tukas Devin lalu pergi
    “Heish!! Kenapa malah bertengkar sih?” gerutu Lani kesal
     “tanyakan saja pada temanmu yang sentiment itu!” putus Arira lalu pergi
    “Dasar labil” umpat Lani kesal.
    *
    “bagaimana perkembangannya?’ Tanya Leo pada ketiga temannya, yang tak lain adalah Lani, Devin, dan Arira
    “tidak tahu!” jawab Arira acuh
    “Hei.. Ayolah kawan.. waktunya tidak banyak lagi..” ujar Leo setengah memohon
    “akan kupikirkan nanti” tukas Devin lalu pergi.
    “Tentu.. aku juga akan memikirkannya nanti.. bye Leo” ucap Arira tak kalah acuh, lalu beranjak pergi
    Leo menatap Lani pasrah, sedangkan yang ditatap hanya mengendikkan bahu.
    *
    Raini sedang menghapal rumus rumus lingkaran dengan tenang. Mulutnya menggumamkan beberapa kalimat yang tidak begitu jelas.
    “ gambar lingkaran berulang ulang. Bagian dalamnya kecil, sedangkan bagian luarnya luas, dikerjakan menggunakan rasio perumpamaan, bukan deret ukur….” Gumam Raini seraya menulis dicatatan kecilnya
    “sibuk?” Tanya sebuah suara
    Raini menoleh dan mendapati seseorang yang sama seperti beberapa hari yang lalu
    “tidak juga” jawab Raini. Seseorang itu duduk disamping Raini.
    “lingkaran?” gumam seseorang itu. Raini mengangguk kecdil
    “kau tidak pergi bersama yang lain ke kantin?” tanya Raini mencoba mencairkan suasana
    “tidak” seseorang itu memasangkan earphone ketelinganya, lalu merebahkan kepalanya ke meja. Menatap Raini yang sedang menulis rumus disampingnya.
    “kau tidak pusing menghapal semua rumus rumus itu Ra?” Raini berjengit kecil mendengar seseorang itu memanggil namanya seperti  itu. Menatap balik seseorang itu
    “kau memanggilku apa tadi?” Tanya Raini memastikan
    “Ra. Kau tidak suka?”
    “bukan. Hanya saja belum ada yang memanggilku seperti itu, Ray”
    “kau memanggilku apa tadi?” Tanya seseorang itu persis seperti yang Raini katakan
    “Ray?  kau tidak suka?” timpal Raini sama persis dengan yang diucapkan seseorang itu
    “bukan. Hanya saja belum ada yang memanggilku seperti itu, Ra” ucap seseorang itu, lagi lagi sama persis dengan ucapan Raini
    Mereka saling tatap, lalu tertawa.
    *
    “Aku ingin bicara” ucap Arira pada Devin
    “bicara saja”
    “ck.. tidak disini.. ayo keluar”
    “kenapa harus keluar? Malas”
    “oke oke! Aku minta maaf atas kejadian tempo hari itu. Aku memang keterlaluan” Devin terdiam
    “ya. Kau memang keterlaluan Arira”
    “ tapi aku sudah minta maaf kan?’
    “oh ya? Lalu aku akan memaafkanmu?”
    “kau tidak memaafkanku?” Tanya Arira tidak percaya
    “kapan aku mengatakan aku tidak memaafkanmu?” ucap Devin seraya mengerling
    “sialan! Kau mengerjaiku ya?” ucap Arira tak percaya
    “ya.. hitung hitung balas dendam. Ngomong ngomong aku sudah menemukan karya seni yang kujamin menang”
    “ benarkah?”
    *
    Acara akhir tahun resmi dibuka. Sekarang adalah saatnya penampilan karya seni para wakil dari semua kelas. Pameran itu diadakan di aula sekolah yang terletak dilantai dua. Wakil kelas 10-3 tampak bersemangat, menjelaskan karya seni mereka
    “ini adalah terobosan baru. Karya seni yang memiliki nilai jual, tepat guna, dan tentunya bernilai seni. Kami membuatnya dari barang bekas. Hanya butuh botol plastik, lampu , baterai, cat, jadilah karya seni ini. Kami menyebutnya “ EXPOSE LIGHT”. Lampu tidur yang terbuat dari botol bekas, dengan sedikit sentuhan tangan terampil kami tentunya, jadilahhh”
    *
    “kerjakan dengan benar, ketepatan, kecepatan, dan ketelitian dibutuhkan, jujur adalah kunci utama. Semoga berhasil”
    Raini mengerjakan soal dengan teliti dan sebisanya. Sepuluh soal uraian yang bukan main sulitnya dikerjakan dengan hati hati. Dalam hati ia berdoa agar usahanya tidak sia sia.
    *
    “pagi gaeeessss!! Hari ini adalah puncak acara akhit tahun sekolah tercinta kita , SMA NUSA!!!! Give applause buat kita semua. Kali ini kita akan mengumumkan juara dari dua lomba yang telah diikuti oleh semua kelas.” Ucap pembawa acara pagi itu dengan ceria.
    “ oke, yang pertama buat lomba karya seni, kita udah nentuin siapa yang bakal jadi pemenang. Ini karya seni yang luar biasa. Belum pernah ada yang buat, dan tentunya tepat guna nih gaess! Pemenangnya adalah…… EXPOSE LIGHTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!”
    Teriakan menggema dari kelompok kelas 10-3. Mereka sangat gembira. Ketiga pahlawan mereka benar benar member bukti nyata akan kerja keras mereka.
    “untuk yang mewakili. Silahkan maju kedepan”
    “Maju Dev!!!” Devin menatap kedua temannya, yang menganggukkan kepala. Devin tersenyum lalu maju kedepan
    “terimakasih untuk panitia yang sudah menjadkan kelas kami sebagai pemenang . terimakasih untuk kedua teman sehidup dan semati kalau kalian mau hahaha, Lani dan Arira!!!! Dan tentunya buat teman teman EXPOSEEEEEEEEEEE… THANKS!!!” Singkat pidato dari Devin membuat kelas 10-3 semakin heboh.
    “Woaahhh!! Selamat buat EXPOSE ya.. oke gaes.. kita bakal umumin siapa yang jadi juara cerdas cermat matematika.. siapa yang tau???” pancing pembawa acara
    Teriakan nama masing masing wakil kelas menggema..
    “kita bakal ambil tiga juara umum. Juara ketiga adalah.. Pradipta dari kelas 11-1!!!!”
    Sorak sorai kembali bergema
    “ juara kedua adalah… Raini dari 10-3!!!!”
    Kali ini EXPOSE harus berpuas diri dengan menyabet juara kedua
    “juara pertama adalah…….. Tia dari kelas 11-2!!!! Untuk yang menjadi pemenang , harap maju kedepan”
    Ketiga pemenang itu maju kedepan..
    “terimakasih buat teman teman 11-1 yang sudah support. Piala ini buat kalian” ucap Pradipta
    “Terimakasih buat teman teman Expose.. ini yang bisa aku sumbangkan buat kalian. Walau hanya menjadi juara kedua, tapi kita tetap menjadi yang terbaik, karena EXPOSE tidak hanya punya ekspektasi, tapi EXPOSE punya lebih dari itu. Yaitu impian dan kerja keras. Thanks..”  pidato singkat Raini tak elak menjadi pusat perhatian seluruh siswa. Lalu terdengar gema tepuk tangan yang meriah
    *
    “Woahhhh!!! Kata katamu kerennn.. kau benar benar Raini kan?” cerocos Lita saat Raini baru saja sampai ke kelompok kelas 10-3 setelah turun panggung.
    “tentu saja.. kau pikir Raini ada berapa?” jawab Raini yang diikuti gelak tawa seluruh temannya. Raini tersenyum lembut, matanya menatap seseorang yang tak jauh darinya. 

    “KARENA EXPOSE TAK HANYA PUNYA EKSPEKTASI, TAPI EXPOSE PUNYA LEBIH DARI ITU, YAITU IMPIAN DAN KERJA KERAS”

    icon allbkg

    Tagged with:

    Next
    Posting Lebih Baru
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says